Sabtu, 01 Juni 2013




Institut Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi Islam yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan, kebangsaan dan kemasyarakatan.
Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan.
Pada awal berdirinya, IAID hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Syari’ah. Kemudian melalui usaha keras, saat ini telah ada tiga fakultas dan satu program, yaitu Fakultas Syari’ah (Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah), Fakultas Tarbiyah (Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah), Fakultas Dakwah (Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam), dan Program Pascasarjana/S2 (Program Studi Pendidikan Islam.
Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah pernah didirikan, tetapi kemudian diubah menjadi Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam sesuai dengan tuntutan dan perkembangan yang ada. Program Diploma PGSD/PGMI juga pernah ada tetapi kemudian ditingkatkan statusnya dari Program Diploma menjadi Program Strata Satu.







PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Manusia adalah mahluk Alloh SWT diciptakan dengan berbagai potensi bakat, minat, kreativitas yang unik serta dinamis. Tentu dengan semua hal itu harus ada usaha atau kewajiban untuk mengembangkan baik dari kecerdasan Intelektual, kecerdasan spiritual, maupun kecerdasan emosional. Dalam perkembangan itu tentunya banyak mengalami hambatan yang dihadapi yang dapat menghambat  serta memengaruhi proses tersebut. Maka disinilah peran guru trutama guru di tingkat MI atau SD, agar dapat membantu mencegah terhadap masalah yang timbul maupun yang belum timbul dengan fungsi pencegahan. Kerena seandainya masalah timbul akan berimplikasi terhadap perkembangan diri peserta didik diusia MI atau SD tersebut.
Oleh karena itu, kami ingin membahas lebih jauh mengenai hal ini guna mendapatkan pemahaman yang benar terhadap apa-apa yang dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik dalam kaitannya dengan emosional.

B.            Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini diantaranya :
1.      Apa yang dimaksud dengan Emosi?
2.      Tahapan-tahapan Apa saja yang ada dalam perkembangan Emosi  Peserta didik diusia MI?
3.      Apa saja Faktor yang memngaruhi perkembangan Emosi  Peserta didik?
4.      Apa itu Karakteristik Perkembangan Afektif?
C.           Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini diantaranya :
1.      Megetahui maksud Emosi.
2.      Mengetahui tahapan-tahapan Perkembangan Emosi Peserta didik diusia MI.
3.      Mengetahui Faktor yang memngaruhi perkembangan Emosi  Peserta didik.
4.      Untuk mengetahui Karakteristik Perkembangan Afektif.

D.    Metode Penulisan
1.      Metode book survey adalah metode yang mengandalkan kemampuan diri untuk menelaah buku-buku yang ada kaitannya dengan masalah yang akan diahas. (Arifin, 1984: 54)
2.      Pencarian sumber dari Internet.


BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertia Emosi
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411), arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi, pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.
Perbuatan atau tingkah laku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak tidak senang yang terlalui menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samara-samar). Dalam hal warna afektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Perasaan-perasaan ini disebut emosi (Sarlito, 1982: 59). Disamping perasaan senang atau tidak senang, beberapa contoh macam emosi yang lain adalah gembira, cinta, marah, takut, cemas, dan benci.
Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Pada saat terjadi emosi seringkali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa :
1.      Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona.
2.      Peredaran darah : bertambah cepat bila marah.
3.      Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut.
4.      Pernafasan: bernafas panjang bila kecewa.
5.      Pupil mata: membesar bila marah.
6.      Bulu roma: berdiri kalau takut.
7.      Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang.
8.      Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar.
9.      Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.
Emosi dapat berfungsi sebagai motif yang memotivasi atau menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar individu berbuat atau bertingkah laku. Tingkah laku yang ditimbulkan oleh emosi tersebut dapat bersifat positif maupun negatif. Jenis emosi yang secara normal dialami dimasa kanak-kanak adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain.
B.            Tahapan Perkembangan Emosi Peserta didik diusia MI
Setiap organisme, baik manusia maupun hewan, pasti mengalami peristiwa perkembangan selama hidupnya. Perkembangan ini meliputi seluruh bagian dengan keadaan yang dimiliki oleh organisasi tersebut, baik yang bersifat konkret maupun yang bersifat abstrak. Setiap aspek perkembangan individu baik fisik, emosi, inteligensi maupun sosial, satu sama lain saling mempengaruhi.
Adapun tahap-tahap perkembangan afektif diantaranya :
Ø  Tahap oral ( 0-1 tahun )
Ø  Tahap anal ( 1-3 tahun )
Ø  Tahap faliks ( 3-6 tahun )
Ø  Tahap latensi ( 6-11 tahun )
Ø  Tahap genital ( 11-dewasa )
Menurut Erikson, perkembangan emosi atau warna afektif peserta didik diusia MI (6 tahun - 11 tahun), tremasuk dalam teori tahapan Industry vs linferiority, yaitu sebuah teori yang berpendapat bahwa “Anak mulai mampu berpikir deduktif, bermain dan belajar menurut peraturan yang ada.”  Dimensi psikososial yang rnuncul pada masa ini adalah: sense of industry, dan sense of inferiority. sense of industry yaitu Anak didorong untuk membuat, melakukan dan mengerjakan sesuatu sampai selesai sehingga menghasilkan sesuatu, sedangkan sense of inferiority yaitu rasa tidak mampu seorang anak dalam menghasilkan sesuatu. Pada usia sekolah dasar ini dunia anak bukan hanya lingkungan rumah saja melainkan mencakup juga lembaga-lembaga lain yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan individu. Keseimbangan industry dan inferiority bukan hanya bergantung kepada orang tuanya, tetapi dipengaruhi pula oleh orang-orang dewasa lain yang berhubungan dengan anak itu.
C.           Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi  Peserta didik
Perkembangan emosi bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 960:266) dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Belajar dengan cara coba-coba lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal. Belajar dengan cara meniru dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Belajar dengan cara mempersamakan diri membuat anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Belajar melalui pengkondisian dilakukan dengan cara asosiasi, setelah melewati masa kanak-kanak.
Pada usia MI, Kegiatan belajar turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain :
1.      Belajar dengan coba-coba
Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya, dan menolak prilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya.
2.      Belajar dengan cara meniru
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati.
3.      Pelatihan atau be lajar di bawah bimbingan dan pengawasan.

D.           Karakteristik Perkembangan Afektif

Perkembangan afektif mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu:
1.    Regulasi diri dan  minat terhadap lingkungan
Yaitu mengenai kemampuan anak untuk mengolah rangsang dari lingkungan dan menenangkan diri. Bila anak masih belum mampu meregulasikan diri maka ia akan tenggelam dalam usaha mencari rangsang yang dibutuhkannya atau sebaliknya menghindari rangsang yang membuatnya tidak nyaman. Dengan demikian, ia tidak bisa memperhatikan lingkungan secara lebih bermakna.
2.    Keakraban dan keintiman
Adalah kemampuan anak untuk terlibat dalam suatu relasi yang hangat, akrab, menyenangkan dan penuh cinta. Pengasuh merupakan hal terpenting dalam dunianya.
3.    Komunikasi dua arah
Adalah kemampuan anak untuk terlibat dalam komunikasi dua arah, menutup siklus komunikasi (aksi-reaksi). Komunikasi di sini tidak harus verbal, yang penting ia bisa mengkomunikasikan intensi/tujuannya dan kemudian mengenal konsep sebabakibat (berpikir logis) dan konsep diri. la mulai menyadari bahwa tingkah lakunya berdampak terhadap lingkungan. Sehingga mulai muncul keinginan untuk aktif memilih/ menentukan pilihan dan berinisiatif.
4.    Komunikasi kompleks
Yaitu mengenai kemampuan anak untuk menciptakan komunikasi kompleks (sekitar 10 siklus), mengekspresikan keinginan dan emosi secara lebih berwarna, kompleks dan kreatif. Mulai menyertakan keinginannya dalam bermain, tidak hanya mengikuti perintah atau petunjuk pengasuh/orang tua. Selanjutnya hal ini akan menjadi dasar terbentuknya konsep diri dan kepribadian. la mampu memahami pola karakter dan tingkah laku orang lain sehingga mulai memahami apakah tingkah lakunya disetujui atau tidak, akan dipuji atau diejek, dan lain-lain, sehingga mulai berkembang kemampuan memprediksi kejadian dan kemudian mengarah pada kemampuan memecahkan masalah berdasarkan urutan logis.




5.    Ide emosional
Adalah kemampuan anak untuk menciptakan ide, mengenal simbol, termasuk bahasa yang melibatkan emosi. Kemampuan menciptakan ide awalnya berkembang melalui permainan pura-pura yang memberikan kesempatan bereksperimen dengan perasaan, keinginan dan harapan. Kemudian ia mulai memberi nama pada benda-benda sekeliling yang berarti, disini ia mulai mengerti penggunaan simbol benda konkrit. Kemudian simbol menjadi semakin meluas pada aktifitas. dan emosi dan ia belajar kemampuan memanipulasi ide untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
6.    Berfikir emosional
Adalah kemampuan anak untuk menciptakan kaitan antara berbagai ide sehingga mampu berpikir secara logis dan sesuai dengan realitas. Mampu mengekspresikan berbagai emosi dalam bermain, memprediksi perasaan dan akibat dari suatu aktifitas, mengenal konsep ruang, waktu serta bisa memecahkan masalah secara verbal dan memiliki pendapatnya sendiri. Bila anak bisa mencapai kemampuan ini maka ia akan siap belajar berpikir abstrak dan mempolajari strategi berpikir.







BAB III
PENUTUP

A.           SIMPULAN
Perkembangan manusia tidak hanya tertuju pada aspek psikologis saja, tetapi juga aspek biologis. Karena setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, emosi, inteligensi maupun sosial, satu sama lain saling mempengaruhi. Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik.
Tahap-tahap perkembangan afektif diantaranya :
Ø  Tahap oral ( 0-1 tahun )
Ø  Tahap anal ( 1-3 tahun )
Ø  Tahap faliks ( 3-6 tahun )
Ø  Tahap latensi ( 6-11 tahun )
Ø  Tahap genital ( 11-dewasa )
Perkembangan emosi bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar, Belajar dengan cara coba-coba lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal. Belajar dengan cara meniru dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Belajar dengan cara mempersamakan diri membuat anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Belajar melalui pengkondisian dilakukan dengan cara asosiasi, setelah melewati masa kanak-kanak.


DAFTAR PUSTAKA
Meyer, Henry R. 2007. Management Dengan Kecerdasan Emosional. Bandung: Nuansa.
Mampiare Andi (1982), psikologi remaja. Surabaya: Usaha Nasional.


By :
Free Blog Templates